Apa isi blog ini ?

Hilmee, in more personal.

Ulul Albab, Indonesia 'Baik-baik saja'

Sabtu, 19 Mei 2012

 
Silakan mencari di Google, siapa saja yang masuk daftar orang terkaya di Indonesia. Yang sebagian besar bercokol di sana adalah nama-nama pengusaha rokok, televisi, dan hiburan. Hiburan? Rokok juga hiburan kan?

Sampai saat ini, masih banyak diantara masyarakat -atau bahkan kita juga- yang masih pahit dalam menjalani hidup di Indonesia tercinta. Orang-orang yang sedih dalam hidupnya perlu pelampiasan, kebanyakan. Dangdut koplo dan hal-hal lain 'membantu' melampiaskan unek-unek yang dirasa selama ini. Dan, untuk melampiaskan kesedihan, paling murah adalah dengan sebatang rokok seharga kurang dari seribu rupiah.

Lihat juga di televisi kita, acara-acara komedi meledak ! Baik komedi dari nilai tradisional (wayang) yang dipadukan dengan modernitas, juga kian menjamur gaya komedi ala Paman Sam, stand up comedy, di mana melawak cukup dengan satu orang.

Ya, karena 'konsumen' hiburan untuk hidup jumlahnya sangat banyak, jangan heran yang jadi orang terkaya di Indonesia ya itu-itu juga. Nah ! Saya tidak mau ngomong tentang kekayaan.

-bersambung-

Pertanyaan-pertanyaan

Senin, 09 Januari 2012

1. Apa to hidayah itu ?

2. Kenapa istinja' terbaik itu menggunakan batu ?

3. Apa arti hikmah ?

4. Apa yang dimaksud dengan zakat ?

5. Shalat apa yang tahiyyatnya melebihi rakaatnya ?

6. Kenapa uang dizakati ?

7. Apakah Allah itu "egois" ?

8. Kenapa manusia bisa tinggal di surga selamanya ? Padahal beribadah hanya pada saat hidupnya ?

9. Jika kita datang shalat jum'at saat khotib sudah berkhutbah, apa yang pertama kita lakukan ?

10. Jika kita datang shalat jum'at saat takhiyat akhir apa yang kita lakukan ?

11. Jika kita terlambat shalat dhuhur (mepet) lalu saat kita shalat duhur tiba2 terdengar adzan ashar, apa yang kita lakukan ?

~beberapa pertanyaan yang saya dapat di pesantren... Alhamdulillah udah lumayan paham. kamu bisa yg nomer brp aja ? :)

~saya sendiri pas denger pertama kali kaya ikan koki megap-megap :chalange accepted:

Bahasa Arrr (rab)

Senin, 05 Desember 2011


Kawan, apakah engkau pernah belajar bahasa Arab ? Bagaimana ? Susah ? Mudah ? Atau membuat ketagihan ? Aku ingin bercerita sedikit tentang bahasa Arab ini. 

Sejak kecil, aku belum pernah belajar bahasa Arab secara benar. Paling-paling saat masih SD, sepulang sekolah, siangnya aku bersama beberapa teman yang lain, sekolah di madrasah ibtidaiyah, kalau kata orang tempatku, “sekolo arab” namanya. Tapi bahasa Arabnya tidak banyak, hanya sebatas qolamun pena, wahidun satu, hmm paling banter hanya sampai angka 30, saja.

Ingin betul aku (setidaknya) memahami bahasa Arab, secara pasif saja dulu, membaca kitab gundul. Selanjutnya mungkin mengartikannya, lalu memahami isinya, lalu masuk ke dalam ilmu tafsir Al Qur’an. Menurut guru-guruku, bahasa Arab itu amat penting, kata beliau-beliau, akan berbeda rasanya jika kita bisa mengerti bahasa Arab dengan orang yang tidak bisa, meskipun orang yang tidak bisa itu punya terjemahannya. Hmm benarkah ? Aku sendiri baru tahu beberapa kata yang benar-benar beda dari sekedar arti, misalkan kata ‘ghani’, dalam terjemah biasa artinya adalah kaya, tapi dalam makna yang lebih dalam artinya “tidak butuh apa-apa”. 

Aku sendiri, baru masuk pesantren ketika kuliah, jadi jangan beranggapan aku ini orang ‘alim nan sudah pintar bahasa Arab. Taukah sobat, ketika baru masuk pesantren dulu, aku baru lulus membaca alfatihah, yang selalu kit abaca di shalat kita itu, dalam waktu 7 hari ! Bayangkan alfatihah harus melewati 7x ujian, aku salah melulu, lidah rasanya sudah benar, tapi menurut guruku belum, lucu kalau mengingatnya. Aku merasa salah, di rumah, setelah maghrib aku membantu ibu mengajari anak-anak kecil di sekitar rumah membaca iqra’, wah kalau ternyata aku di pesantren saja masih dianggap salah, apakah aku mengajarkan bacaan yang salah kepada mereka ? Astaghfirullah, semoga diampuni.

Mengenai itu, aku jadi ingat pertanyaan yang diajukan pada kiaiku kala itu di Cirebon, Kang Ayip Mu. “Kang Ayip, lebih baik mana belajar di pesantren atau tetap di rumah mengajari anak kecil mengaji ?” Karena di kampong itu tak ada lagi guru mengaji kata si penanya. Kang Ayip Mu lalu menjawab dengan mantap, “Mesantren ! Jika kau tidak punya ilmu dalam mengajar merekapun, kau akan mengajarkan yang salah, maka dari itu belajar dulu di pesantren.”

Kembali ke masa sekarang. Kini bila membaca Qur’an, dengan benar, gunnah, tajwid, dan taukah, napasku akan kalah jika menemui mad-mad wajib yang saling berdekatan, hah ! Susah memang, tapi menyenangkan mendengar suara dari bibir sendiri oleh kuping sendiri jika bacaan kita fasih, senang betul kawan J. Tapi itu semua cerita “membaca”, belum tentang bahasa Arabnya.
Sebenarnya di pesantrenku ada pelajaran bahasa Arab, tapi sekali lagi, karena 0 besar maka aku agak sulit mengikuti kecepatan teman-teman yang lain, dan juga gurunya kurang dapat menganalogikan bahasa Arab ke tata bahasa Indonesia atau Inggris (sebab itu yang lumayan aku paham), pikirku dengan menganalogikan ke bahasa yang aku sudah paham, maka akan lebih mudah mencernanya.

Karena “ketidak cocokan” itu, aku nekat mencari buku. Beberapa buku ku beli, di awalnya penjelasannya enak sekali serasa “for dummies book”, eh tapi di tengah-tengah mulai tidak enak dan banyak istilah yang tak aku mengerti, hah.

Selanjutnya aku “beruntung” mendapatkan e-book tentang bahasa Arab yang ditulis oleh orang barat, dibawakan dengan pendekatan grammar bahasa Inggris. Tapi namanya belajar sendiri, tanpa guru, terasa tak mengasyikkan. Sedangkan dalam belajar bahasa itu, perlu ada intensitas, dan latihan yang terus menerus. Nah, aku mentok di sana. 

Sempat aku menawarkan temanku untuk ku ajari bahasa Inggris, sebagai gantinya ia mengajariku bahasa Arab. Eh tapi sekarang dia sering sibuk, banyak program mengajar di tempat lain, maklum dia memang cerdas dan banyak diamanahi tugas dari beberapa organisasi, hebat betul dia. Karena itu rencana B itu gagal pula.

Dulu aku “memecahkan skor telor” kementokan bahasa Inggris-ku dengan kursus di Pare, Alhamdulillah peningkatan kemampuan luar biasa. Namun untuk ke Pare lagi itulah, aku belum sempat, juga jauh. Ah, hai bahasa Arab, kau licin sekali !

Lagipula, tidak seperti bahasa Inggris yang kata demi katanya bisa diartikan dengan mudah satu-satu. Dalam bahasa Arab, kita perlu tahu nahwu-sharaf (yang aku blm menguasainya), bahkan untuk mencari arti sebuah kata dalam kamuspun. Fiuh.

Hampir menyerah, tapi aku masih punya darah, ku baca do’a
اللهم اعنني على ذكرك وحسن عبادتك
"Allahumma a'innii 'alaa dzikriKa wahusni 'ibaadatiKa" (Ya Allah ya Tuhanku, bantulah aku untuk berdzikir kepadaMu dan membaikan ibadahku kepadaMu)

Semoga nanti diberi kesempatan belajar bahasa Arrr (rab), amin. *nangis di pojokan

Any solution or recommendation ? Please help me with your awesome comment.